SEJARAH CANDI BOROBUDUR, ASAL USUL, PENDIRI
SEJARAH CANDI BOROBUDUR, ASAL USUL, PENDIRI
Nama : Rachma Aulia
Kelas : 2KA26
NPM : 14117811
SEJARAH CANDI BORO BUDUR
Candi Borobudur merupakan salah satu Candi
terbesar di Indonesia. Candi borobudur merupakan salah satu Candi Buddha yang
terletak di Magelang, provinsi Jawa Tengah. Candi Borobudur terletak kurang
lebih 40 km di sebelah barat laut kota jogja. Dengan kendaraan umum, mobil dan
sepeda motor hanya memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan dari kota Jogja.
Candi Borobudur di bangun pada masa penganut
ajaran Buddha Mahayana tepatnya sekitar tahun 750-800 an Masehi. Candi
Borobudur pun masuk dalam 7 keajaiban dunia, selain karena menjadi yang
terbesar, Candi Borobudur menjadi Candi Buddha yang tertua karena di bangun
jauh sebelum Candi Angkor Wat di Kamboja yang masih baru dibangun kira-kira
pada pertengahan abad ke-12 oleh Raja Suryavarman II.
LETAK CANDI BOROBUDUR
Lokasi Candi Borobudur sendiri terletak di
kota Magelang, Jawa Tengah. Untuk alamat pasti dan lengkapnya, Candi Borobudur
berada di Jalan Badrawati, Borobudur, Kota Magelang, Jawa Tengah. Lokasi Candi
Borobudur sendiri berada di tengah-tengah dan sangat strategis.
ASAL USUL CANDI
BOROBUDUR
Nama Candi Borobudur sendiri
berasal dari kata bara dan budur. Dalam
istilahnya, bara memiliki arti kompleks biara dan kata budur yang
mempunyai arti atas. Yang kemudian, jika digabungkan menjadi kata barabudur dibaca
borobudur yang berarti kompleks biara di atas.
Tidak ada yang tahu siapa pasti yang membangun
Candi Borobudur. Tidak ada bukti tertulis maupun bukti-bukti lainnya yang
menjelaskan sejarah pasti tentang Candi Buddha terbesar ini. Setelah
penemuannya, para peneliti hanya memperkirakan bahwa Candi Borobudur dibangun
antara tahun 750-800 an Masehi.
Perkiraan waktu pembangunan ini pun didasarkan
pada perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup
Karmawibhangga Candi Borobudur dengan jenis aksara umumnya yang digunakan pada
prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9 Masehi.
PENDIRI CANDI
BOROBUDUR
Siapakah yang membangun Candi Borobudur pada masa itu? Catatan
sejarahpun tidak mampu memberikan bukti dan perkiraan siapa pasti yang pendiri
awal Candi Borobudur. Catatan sejarah hanya menyebutkan bahwa Candi Borobudur
dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra.
PROSES PEMBANGUNAN CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur awal mulanya adalah berupa
rancangan bangunan berupa stupa tunggal yang sangat besar yang memahkotai
puncaknya. Namun karena pertimbangan bahwa stupa akan terlalu besar dan berat
yang beresiko membahayakan jika diletakkan di puncak, maka kemudian stupa
tersebut dibongkar dan digantikan dengan tiga barisan stupa dengan ukuran kecil
dan satu stupa induk seperti sekarang ini.
Megahnya bangunan Candi Borobudur sendiri terbagi
ke dalam 10 tingkat yang berbentuk punden berundak. Filosofi yang terkandung
pada 10 tingkat bangunan Candi Borobudur tersebut adalah untuk melambangkan
tahap dan proses hidup manusia.
Adapun proses tahapan-tahapan dalam pembangunan Candi Borobudur adalah
sebagai berikut :
1.Tahap Awal
Pada tahap pertama pembangunan Candi Borobudur, pembangunan
dilakukan dengan meletakkan pondasi dasar bangunan Candi. Karena tidak tahu
kapan pasti Candi Borobudur dibangun, tahap awal pembangunan kira-kira dimulai
pada tahun 750 an Masehi. Candi Borobudur dibangun di atas kontur perbukitan
tinggi, yang mana pada bagian bukit yang paling puncak diratakan guna membentuk
pelataran datar yang luas.
Bahan bangunan dasar Candi
Borobudur adalah terbuat dari batuan andesit, namun ini tidak
seluruhnya
Untuk tahap selanjutnya, tahan kedua pembangunan, Candi borobudur tidak memakan banyak proses pembangunan yang lama. Karena pada tahan kedua ini hanya dilakukan proses penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undakan melingkar.
Kemudian setelahnya, di atasnya langsung dibangun sebuah stupa induk atau tunggal yang sangat besar.
3.Tahap Ke-3
Pada tahapan ini rancangan bangunan Candi Borobudur mengalami perubahan. Undakan yang terletak di atas puncak dengan stupa induk yang memahkotai puncaknya dibongkar dan diganti menjadi tiga undakan lingkaran kecil. Pada undakan ini kemudian stupa-stupa kecil dibangun berbaris dan melingkar.
Lalu, pada pelataran undak-undak tersebut, diletakkan stupa induk tunggal di tengah-tengahnya menjadi mahkota puncak yang baru. Perubahan undak stupa ini dikarenakan stupa lama terlalu besar dan berat serta beresiko sehingga diganti tiga stupa kecil dan satu stupa induk.
4. Tahap Ke- 4
Pada tahapan akhir, yaitu tahap keempat pembangunan hanya dilakukan sekedar perubahan-perubahan kecil dan tahap penyelesaian finishing). Perubahan kecil pada bangunan Candi Borobudur hanya meliputi penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan paling luar bangunan, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu serta juga pelebaran ujung kaki bangunan.
Setelah tahap perubahan kecil dan penyelesaian selesai, Candi Borobudur pun sampai pada selesai dibangun.
PENEMUAN CANDI BOROBUDUR
Dalam ulasan berikutnya, penulis juga akan
memaparkan mengenai tahap penemuan kembali Candi Borobudur. Setelah tahap
pembangunan Candi Borobudur yang memakan hampir bahkan lebih 100 tahun lamanya,
Candi Borobudur sempat hilang karena tersembunyi dan terlantar selama
berabad-abad.
Candi Borobudur terkubur di dalam lapisan
tanah dan debu vulkanik akibat letusan gunung berapi yang kemudian
lama-kelamaan tanah tersebut ditumbuhi pohon dan semak belukar sehingga
masyarakat tidak tahu-menahu bahwa bukit disekitar lingkungan mereka adalah
kuburan Candi raksasa. Karena pada saat itu Candi Borobudur benar-benar
menyerupai bukit pada umumnya.
Menurut sejarah yang ada, salah satu
kemungkinan penyebab mengapa Candi Borobudur ditinggalkan adalah dipindahkannya
ibu kota kerajaan Medang oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 928 sampai 1006 Masehi
ke kawasan Jawa Timur karena terjadinya bencana yang disebabkan oleh letusan
gunung berapi. Meskipun demikian, pernyataan ini juga belum bisa dipastikan
karena tidak ada bukti untuk menguatkan.
Candi Borobudur kemudian ditemukan kembali,
tepatnya pada tahun 1814 Masehi, oleh pemerintahan Inggris di Jawa yang
dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles yang memang memiliki ketertarikan pada
sejarah dan kebudayaan Jawa.






Komentar
Posting Komentar