PENTINGNYA MELESTARIKAN HEWAN
PENTINGNYA MELESTARIKAN HEWAN
\
Nama : Rachma Aulia
Kelas : 2KA26
NPM : 14117811 Nama
Perlindungan dan
pelestarian satwa liar merupakan bagian dari sikap dan gerakan moral dalam
rangka mewujudkan pelestarian lingkungan. Sebagai bangsa yang dianugerahi
keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia, bangsa Indonesia berkewajiban
untuk menjaganya sebagai wujud rasa syukur.
Penjelasannya pula
tidak bisa hanya berhenti pada aspek pengetahuan, melainkan akan menjadi
berarti jika diwujudkan ke dalam bentuk tindakan moral. Setiap individu
memiliki tingkat penerimaan yang berbeda atas sesuatu yang menyangkut
lingkungan sekitarnya.
Asal-Usul satwa liar
Pada tahun 1988, ketika
mengunjungi kawasan Sungai Mahakam (Kalimantan Timur), penulis sempat melihat sekawanan
ikan pesut (Orcaella brevirostris). Sejenis lumba-lumba air tawar yang
mendiami kawasan hulu sungai Mahakam. Dalam periode yang tidak berjauhan,
penulis sempat beberapa kali melihat seekor macan dahan (Neofelis nebulusa) di
kawasan hutan lindung “Bukit Soeharto” di Kalimantan Timur. Kawasan hutan
lindung ini pula yang sekaligus menjadi pusat konservasi dan perawatan orang
utan (Pongo pygmaeus). Ironisnya, pada tahun 2006 lalu, penulis
mendengar apabila kawanan pesut Mahakam semakin sulit ditemukan. Begitu pula
dengan macan dahan.
Kondisinya sangat
memprihatinkan. Mereka diberikan kandang yang sempit, serta tidak diberikan
kesempatan untuk bersosialisasi secara terbuka. Penulis mengetahui penduduk
setempat memeliharanya ketika kedua mamalia tersebut masih berusia belia.
Semakin memprihatinkan, karena seiring dengan bertambahnya usia dan ukuran
tubuh, mereka nyaris semakin sulit untuk bergerak. Penulis kemudian mencoba
berkomunikasi dengan si pemilik hewan liar tadi, setelah satu waktu terlepas,
lalu penulis membantu menangkap dan mengembalikan.
Sebenarnya masih banyak
sekali satwa-satwa liar yang dipelihara secara ilegal di masyarakat.
Pemeliharaan secara ilegal seringkali akan membuat mereka menjadi semakin
rentan. Para pemiliknya seringkali hanya melakukan perawatan seadanya, seperti
satwa peliharaan pada umumnya. Kebanyakan di antaranya memang bisa bertahan
hidup di tengah lingkungan sosial manusia. Tetapi mereka akan menjadi sangat
rentan, ketika lepas dari lingkungan sosial manusia.
Mengapa
Satwa Liar Perlu Dijaga dan Dilestarikan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan bentuk penjelasan keilmuan yang berisikan bahasa sains sehubungan dengan rumpun ilmu pengetahuan alam. Tetapi bentuk penjelasannya tidak terbatas hanya pada aspek sains, melainkan bisa berdasarkan pendekatan moral ataupun norma tertentu yang berlaku. Cerita rakyat berupa legenda merupakan bentuk penjelasan mengenai nilai-nilai atau norma yang berlaku di daerah setempat. Adapula yang menggunakan bentuk pendekatan hukum.
Ada sebanyak 4 elemen
penting yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan alam, yaitu elemen
air, tanah, udara, dan api. Hutan merupakan penyedian oksigen dunia yang
nantinya akan membentuk lapisan ozon yang melindungi Bumi dari radiasi berbahaya
sinar matahari. Selain sebagai produsen oksigen, hutan memiliki peran penting
untuk menjaga suplai air tanah maupun air di permukaan (sungai ataupun danau).
Dalam hal ini, hutan bukanlah suatu elemental yang berdiri sendiri, melainkan
menjadi bagian dari seluruh elemen di dalam lingkungan ataupun ekosistem.
Pada tahun 1980an, ada
dua kawasan (negara) yang menjadi produsen oksigen dunia, yaitu hutan Amazonia
(Brasil) dan hutan di Kalimantan dan Papua (Indonesia). Memasuki dekade 1990an,
WWF melaporkan apabila hutan Amazonia sudah musnah digantikan hutan buatan.
Kasus keseimbangan
ekosistem yang kemudian berdampak pada perusakan lingkungan sudah berulangkali
terjadi. Salah satu bukti yang nyata adalah tragedi di Taman Nasional Coyote
(Amerika Serikat). Atas restu federal, pemerintah negara bagian mengeluarkan
perintah untuk menghabisi
kawanan serigala yang bermukim di TN Coyote. Hutan di
taman nasional ditemukan banyak yang layu atau tidak sehijau yang sebelumnya.
Sungai-sungai kecil mulai sering ditemukan mengering di beberapa tempat.
Akhirnya pada tahun 1990an, pemerintah federal mengeluarkan upaya pencarian
kembali serigala liar yang masih tersisa untuk diselamatkan dan
dikembangbiakkan.
Filosofi dari negeri
China menyebutkan terbentuknya keseimbangan yang berasal dari 4 unsur utama,
yaitu udara, air, tanah, dan api. Filosofi tersebut sebenarnya dapat pula
ditafsirkan sebagai bentuk sumber terciptanya keseimbangan ekosistem yang akan
menghasilkan elemen-elemen kehidupan.
Bukan
Memilih Kenaifan, Tetapi Kearifan
Penulis hendak mengajak pembaca untuk melihat suatu ilustrasi yang sebenarnya menjadi dilema sikap manusia terhadap lingkungan hidup. Suatu kawasan alami yang kaya akan keanekaragaman hayati kemudian ditemukan memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi.
Kerusakan lingkungan
tidak lagi pernah diperbincangkan, karena tergantinkan oleh munculnya
proyek-proyek kesejahteraan. Hingar bingar perekonomian terus tumbuh di kawasan
tersebut hingga mencapai waktu 2 generasi.
Ada dua bentuk kerugian
yang diperoleh masyarakat yang secara naif mengorbankan kekayaan hayatinya.
Pertama, mereka telah kehilangan kekayaan sumber daya alam yang sangat penting
dan dibutuhkan oleh banyak manusia di luar kawasan tersebut. Kedua, mereka
tidak lagi punya kesempatan untuk mengembalikan kekayaan hayati yang sudah
dikorbankan (musnah/punah). Keturunan mereka di masa yang akan datang tidak
akan pernah bisa menyaksikan dan turut memiliki kekayaan hayati yang pernah
dianugerahkan di tanah kelahirannya. Identitas diri yang menjadi khas daerah
tersebut sudah hilang, sehingga tidak ada sesuatu yang menarik lagi, kecuali
hanya bergantung pada kekayaan alam mineral yang sudah habis.
Masyarakat di negara
ini sangat bergantung sekali dengan keseimbangan ekosistem sebagai sumber mata
pencaharian utama. Jutaan turis manca negara dan puluhan kapal pesiar selalu
hadir di kawasan perairan dan kepulauan Bahama. Jutaan dolar mengalir setiap
harinya hanya dari aktivitas wisata alam.
Pendekatan
Religius
Sebagai umat beragama yang kebetulan beragama Islam, penulis mencoba untuk menelusuri berbagai sumber yang menjelaskan sikap moral atas pelestarian satwa liar. Perlunya pendekatan religius, karena Indonesia merupakan negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia.
Dari Abu
Hurairah RA bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Ketika seorang laki-laki
berjalan ia mengalami dahaga yang sangat luar biasa. Lalu ia turun ke dalam
sumur, minum airnya, lalu naik keluar. Tiba-tiba ia dapati seekor anjing yang
menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia berkata (dalam hati): anjing ini telah
kehausan seperti kehausan yang aku alami. Lalu ia kembali turun ke dalam sumur,
ia penuhi sepatunya dengan air, ia pegang dengan mulutnya, lalu diberikan minum
untuk anjing itu. Allah membalasnya dan mengampuni dosanya. Para sahabat
bertanya: Ya Rasulullah apakah kita mendapatkan pahala dari hewan-hewan ternak
kita? Jawab Nabi: Dalam setiap hati yang basah terdapat pahala”
(HR Al Bukhari)
(HR Al Bukhari)
Satu manfaat, si induk
bisa diperjualbelikan untuk diambil organ-organ tubuhnya, kemudian manfaat lain
diperoleh dengan menjual anak-anak satwa liar tadi. Tentu saja perbuatan
tersebut bukan dimaksudkan untuk memberikan manfaat, melainkan demi mendapatkan
keserakahan semata. Harga hati seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris
sumatrae) bisa dihargai dengan nilai lebih dari 3 kali lipat harga emas.

Komentar
Posting Komentar