PENANGGULAN KRISIS AIR DI INDONESIA

PENANGGULAN KRISIS AIR DI INDONESIA








Nama               : Rachma Aulia
Kelas               : 2KA26
NPM               : 14117811











KRISIS AIR INDONESIA




Membahas mengenai urgensi perubahan iklim di Indonesia dan dampaknya terhadap lingkungan. Pada kesempatan kali ini, kumparan (kumparan.com) berkesempatan untuk berbincang dengan Pratomo (Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani), Joko, Ari Mochamad dan Andrew Hallatu (Public Affairs Manager Coca Cola Indonesia).

Andrew yang telah bergabung dengan Coca Cola sejak 2010 mengatakan bahwa isu air dan lingkungan ini penting untuk diketahui oleh banyak pihak. Coca cola tidak hanya menanggulangi krisis air sebagai salah satu program CSR yang dimiliki, tetapi juga ikut berkolaborasi dengan pemerintah, swasta, BUMN, masyarakat dan pihak lainnya untuk bersama-sama memperbaiki permasalahan lingkungan di lingkungan, bukan hanya mengandalkan pihak tertentu saja.
Coca-cola secara global memiliki empat pilar utama yang secara berkesinambungan telah mengintegrasi sejumlah inisiatif CSR. Keempat pilar tersebut adalah environment, marketplace, workplace, dan community.

Coca cola membantu program pemerintah yang bernama "Seribu Embung" di tahun ini. Embung itu sendiri berbentuk semacam waduk air yang tidak hanya akan membantu proses konservasi air, tetapi juga membantu irigasi pertanian. Kontribusi Coca Cola dalam program pemerintah ini merupakan bagian dari program CSR yang perlu secara rutin dilakukan. Tahun ini sedang dibuat dua embung untuk mengaplikasikan program tersebut.

ANCAMAN KRISIS AIR DI INDONESIA

Air tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Hampir di segala aktivitas, manusia memerlukan keberadaan air. Sayangnya setiap tahun seolah ada permasalahan yang berulang terkait dengan keberadaan air tawar di Indonesia. Saat musim hujan, air yang melimpah tersebut menjadi banjir.
Alam memiliki mekanisme tersendiri dalam menata sistemnya. Di Indonesia yang memiliki dua musim, sudah merupakan hal yang jamak jika pada bulan September hingga Februari mengalami musim hujan sehingga volume air sangat besar, selanjutnya pada bulan Maret hingga Agustus berganti menjadi musim kemarau dimana air dikonsumsi hingga di sejumlah daerah pun mengalami defisit. 

Memang curah hujan di tiap daerah di Indonesia tidak persis sama. Ada yang debit airnya deras seperti di daerah pegunungan, ada pula yang miskin air, termasuk pada saat musim hujan seperti di beberapa wilayah di NTB dan NTT.

Jika banjir seolah sudah dimaklumi sebagai bencana tahunan dan menjadi bagian dari daerah yang tak jauh dari sungai maupun di kota besar, maka berita krisis air yang mulai mengancam jelang musim kemarau ini seolah kurang menarik dan mendapat porsi perhatian yang kecil dari pemerintah. Padahal, daerah yang mengalami krisis air semakin meluas, bahkan Bali dan Jabodetabek pun terancam krisis air. Hal ini menjadi tanda tanya besar apakah kerusakan lingkungan sudah makin menjadi-jadi dan apakah ada faktor lain selain faktor lingkungan dan perubahan iklim.
Seperti yang dilansir di berbagai media, daerah yang berpotensi terancam krisis air adalah pulau Jawa, Bali, Sulawesi, dan pulau-pulau yang masuk provinsi NTT. 

Jika permasalahan krisis air ini hanya diberikan solusi secara terbatas seperti penyediaan bantuan air bersih atau bantuan sumur bor, maka hal ini tidak akan menyentuh akar permasalahannya. Bisa-bisa Indonesia bernasib seperti negara-negara Afrika Timur yang kebutuhan airnya sebagian besar diimpor atau yang lebih buruk bisa jadi pada tahun 2030 setiap individu hanya diberi jatah beberapa gelas air untuk memenuhi seluruh kebutuhannya seperti yang sering digambarkan di novel atau buku tentang distopia.

Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan di ruang lingkup rumah tangga dan komunitas, namun ada pula yang harus menjadi bahan perhatian pemerintah beserta institusi pengelola air bersih dan kalangan peneliti/akademisi untuk menjaga keberlangsungan air.

PERAN RUMAH TANGGA DAN MASYARAKAT

Peran serta masyarakat sangat penting dalam menjaga keberlangsungan air bersih di lingkungan tempat tinggal mereka. Ada dua peranan yang bisa mereka lakukan dalam menjaga kelestarian air bersih yaitu fungsi protektif (melindungi, mencegah) dan detektif (mendeteksi).
Pada fungsi perlindungan dan pencegahan, masyarakat dibudayakan untuk mencintai air sebagai sahabat mereka. Air merupakan sesuatu yang sangat berharga dan nilainya suatu saat bisa melebihi emas permata.

Cara sederhana dalam menghemat air adalah menutup kran saat tidak digunakan, membetulkan pipa, selang, atau kran yang bocor, serta menggunakan air secukupnya, seperti menggunakan produk dan peralatan yang hemat air ketika mencuci pakaian. 
Metode proteksi lainnya yaitu menghentikan kebiasaan membuang sampah di saluran air dan sungai. Selain membuat sungai kotor dan berbau busuk, keberadaan sampah juga mengakibatkan matinya biota air, memangkas persediaan air bersih, menimbulkan beragam penyakit, serta  menyebabkan banjir karena aliran air yang tidak lancar.
Apabila tiap rumah tangga sudah terbiasa hidup hemat dalam mengkonsumsi air dan terbiasa hidup bersih maka mereka bisa masuk ke tahap berikutnya yaitu kesadaran menanam pohon dan membuat biopori di halaman mereka.  Keberadaan akar tanaman yang kuat dan biopori akan meminimalkanrun off air hujan, meminimalisir ancaman banjir, dan menambah persediaan air tanah. Selain itu, warga juga bisa memanfaatkan tandon air untuk menampung air hujan. Air hujan ini bisa dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga.
Aqua, sebagai salah satu produsen air kemasan, juga memiliki program yang mengajak elemen masyarakat untuk berperan langsung dalam kelestarian air. Program tersebut bernama Aqua Lestari dimana salah satu programnya adalah WASH (Water Access, Sanitation and Hygiene) atau program Akses Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan.
Pada program WASH tersebut, Aqua memberikan edukasi tentang pengelolaan dan pemanfaatan air secara bijak kepada anak-anak SD di lingkungan pabrik. Pemberian edukasi kepada anak-anak sejak dini tersebut penting karena merekalah generasi penerus yang akan mengelola bumi Indonesia kelak. Selain edukasi tentang budaya hemat air, Aqua juga mengajak masyarakat dan LSM untuk menanam pepohonan di berbagai wilayah seperti di Taman Nasional Gunung Salak-Halimun. Selain program konservasi, Aqua Lestari juga memiliki program pengelolaan sampah, akses air bersih, penyehatan lingkungan, pertanian berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Selanjutnya, untuk fungsi deteksi, para elemen masyarakat juga bisa terlibat dalam penyampaian informasi atau laporan kepada pemerintah jika terjadi tanda-tanda pencemaran air dan gejala krisis air di daerah tempat tinggalnya. Tiap individu bisa melaporkannya ke tingkat RT/RW dan kemudian diekskalasi ke pejabat yang berwenang sehingga pencemaran air dan krisis air tersebut tidak meluas dan bisa segera diantisipasi.
KERJA SAMA PEMERINTAH, INDUSTRI, DAN PENILITI-AKADEMISI
Krisis air memang telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Namun, dengan melihat kondisi geografis Indonesia yang wilayahnya terdiri atas kepulauan dan masuk di kawasan tropis, sebenarnya Pemerintah juga bisa memandang sistem pengelolaan air di Indonesia sebagai tantangan.
Mengapa disebut tantangan? Ya, sebenarnya Indonesia harus bersyukur karena negerinya masuk kawasan tropis dimana curah hujannya di sebagian besar wilayahnya cukup tinggi. Wilayahnya juga sebagian besar berupa perairan meski didominasi air asin.
Jika pemerintah mempersepsikan kondisi air bersih dan sanitasi di Indonesia sebagai tantangan, maka perlu kerja keras dalam membenahi berbagai hal terkait lingkungan, demografi, pembangunan ekonomi, dan regulasi, serta investasi di infrastruktur dan teknologi sistem pengelolaan air bekerja sama dengan institusi dan akademisi.
Krisis air tidak semata-mata terjadi karena daerah tersebut mengalami musim kemarau. Pembangunan yang tidak mengindahkan lingkungan seperti bergantinya daerah resapan air menjadi pemukiman, berubahnya fungsi hutan menjadi perkebunan, akan mempercepat laju krisis air, begitu pula kebiasaan buruk masyarakat seperti membuang sampah di sungai dan selokan.
Dari segi lingkungan, pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan fungsi hutan dan sumber air seperti sungai. Hutan-hutan harus tetap lestari dan tidak dibiarkan punah untuk kepentingan komersial. Penghijauan dan reboisasi harus terus digalakkan karena alam Indonesia sebagian besar telah rusak. Demikian pula dengan kondisi sungai. Ada banyak sungai yang tercemar, mengering, atau sarat akan sampah rumah tangga. Pemerintah harus sigap untuk segera mengembalikan sungai tersebut dengan melakukan normalisasi sungai.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISACA, IIA, COSO, DAN ISO 1799- AUDIT SISTEM INFORMASI

MANAJEMEN LAYANAN INDOMARET

NARASI TENTANG DIRI SENDIRI