PENANAMAN NILAI DAN MORAL PADA ANAK SEKOLAH DASAR DENGAN PENDEKATAN STORYTELLING MELALUI MEDIA KOMUNIKASI VISUAL







Nama               : Rachma Aulia
Kelas               : 2KA26

NPM               : 14117811











Modernisasi tidak selalu membawa perubahan yang lebih baik, contohnya yaitu terjadinya degradasi moral yang tampak pada perilaku generasi muda sekarang dengan maraknya pemberitaan tawuran pelajar yang berujung kematian. Hal ini menjadi tanggung jawab orang tua karena kurangnya perhatian yang cukup untuk anak melalui edukasi nilai dan moral. Padahal, salah satu cara menanamkan nilai dan moral pada anak disampaikan melalui kegiatan storytelling atau mendongeng, yang sudah mulai jarang dilakukan para orang tua.




Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya budaya, sebagai wujud manifestasi keberagaman suku yang mendiami pulau Sumatera hingga Papua. Budaya sebagai suatu pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak, dan luas, serta menjadi penentu perilaku komunikatif yang tertanam dalam berbagai kegiatan sosial manusia

Sebagai bangsa yang beradab, Indonesia menjunjung tinggi hakikat budaya sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, dan makna[2], yang diantaranya saling berkorelasi satu sama lain sebagai satu-kesatuan. Kesadaran masyarakat terhadap hakikat budaya khususnya nilai dan sikap, mendorong terjadinya kehidupan yang harmonis

Kurang terarahnya moral anak muda zaman sekarang sangat dipengaruhi oleh keluarga sebagai lingkungan inti. Keluarga menjadi pihak pertama yang bertugas menanamkan nilai dan moral kepada anak sejak dini. Situasi yang ada menunjukkan bahwa orang tua lebih fokus ke karir dan di sisi lain orang tua berharap agar anak menjadi baik dan berguna
Melalui storytelling, hubungan antara orang tua dengan anak semakin kuat. Orang tua menyampaikan kisah bertema budi pekerti melalui komunikasi lisan, yang juga berperan sebagai cerita pengantar tidur. Namun, storytelling saat ini sudah mulai hilang dalam aktivitas sehari-hari. 

Makin maraknya perangkat teknologi yang semakin canggih menyebabkan orang tua tidak lagi mendidik anak melalui storytelling. Kemajuan teknologi yang sangat pesat juga menjadi sebab storytelling mulai dilupakan. Orang tua lebih eksis dengan smartphone untuk sekedar bersosial media atau bermain game. Perhatian orang tua kepada anak semakin menurun, bahkan anak usia dini juga sudah disuguhi perangkat elektronik. Hal ini sangat miris, mengingat komunikasi antara anak dengan orang tua semakin jarang, yang berakibat pada minimnya nilai-nilai moral yang bisa diajarkan kepada anak.

Nilai merupakan sifat-sifat atau hal-hal penting yang berguna bagi kemanusiaan[8]. Nilai merupakan seperangkat aturan yang terorganisasi untuk memilih pilihan, memiliki aspek evaluatif yang meliputi kemanfaatan, kebaikan, kebutuhan, dan sebagainya. Nilai sebagai bagian dari budaya tidak bisa berdiri sendiri. Dalam kehidupan, nilai selalu berhubungan dengan hal lain, seperti: kepercayaan, moral, sikap, komunikasi, dan sosial.

Moral merupakan ajaran baik-buruk tentang sikap, akhlak, dan budi pekerti, yang dapat ditarik dari suatu cerita. Moral sebagai bentuk keyakinan yang menjadi dasar tindakan atau gagasan sesuai konvensi. yang merupakan ketentuan yang mengikat kelompok warga di masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat 5 norma yang berlaku yaitu: agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan, dan hukum. Norma agama didasarkan pada ajaran akidah; norma kesusilaan berdasar pada akhlak; norma kesopanan berpangkal dari aturan di masyarakat; norma kebiasaan didasarkan pada tindakan berulang dalam hal yang sama; sedangkan norma hukum didasarkan pada aturan yang resmi dan diakui negara.

Berdasarkan usia, anak Sekolah Dasar (SD) bisa dikategorikan ke dalam masa anak tengah dan akhir (middle and late childhood). Masa ini merupakan  masa perkembangan yang berlangsung dari usia 6-11 tahun, yang memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan mengenal budaya. Pemahaman tentang anak SD juga tidak bisa lepas dari lembaga pendidikan. Pada masa ini anak memasuki dunia belajar di dalam dan di luar sekolah, yakni belajar di sekolah dan mengerjakan tugas di rumah. Pada tahap ini, perilaku anak dibentuk melalui penguatan verbal, keteladanan, dan identifikasi.

Storytelling
Secara etimologi, storytelling dibentuk dari kata story yang berarti cerita dan telling yang berarti menceritakan. Definisi storytelling menurut Oxford Dictionary of English yaitu “the action of telling stories”. Dalam Webster’s New Twentieth Century Dictionary of the English Language, story yang dimaksud yaitu “telling of a happening or connected series of happenings, whether true or fictitious, an account: narration ”. Storytelling lebih dikenal dengan mendongeng atau menceritakan dogeng, inti dari storytelling yaitu bentuk penceritaan suatu kejadian baik nyata maupun fiksi yang dikemas dalam wujud narasi atau secara lisan.

Storytelling sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu. Hal ini bisa dilihat dari masa lalu, bahwa ajaran tentang kehidupan disampaikan secara lisan. Biasanya, mendongeng digunakan oleh orang tua untuk menidurkan anak, dengan menceritakan kisah-kisah seperti fabel, dongeng, mitos, dan sebagainya. Storytelling tidak hanya sekedar aktivitas penceritaan kisah nyata atau fiktif. Dengan melihat perkembangan teknologi sekarang ini, bentuk kegiatan storytelling mengalami pergeseran. Jika pada awalnya kegiatan ini disampaikan melalui komunikasi lisan, saat ini dengan adanya perangkat teknologi seperti mesin cetak, komputer, laptop, tablet, hingga smartphone, membuat pengayaan penyampaian cerita kepada anak bergeser ke berbagai bentuk komunikasi.


http://publikasi.dinus.ac.id/index.php/andharupa/article/view/1018/791

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISACA, IIA, COSO, DAN ISO 1799- AUDIT SISTEM INFORMASI

MANAJEMEN LAYANAN INDOMARET

NARASI TENTANG DIRI SENDIRI