MEMBANGUN KEMBALI SIKAP NASIONALISME BANGSA INDONESIADALAM MENANGKAL BUDAYA ASING DI ERA GLOBALISASI
MEMBANGUN
KEMBALI SIKAP NASIONALISME BANGSA
INDONESIADALAM MENANGKAL BUDAYA ASING DI ERA GLOBALISASI
Nama :
Rachma Aulia
Kelas :
2KA26
NPM :
14117811
Nilai kebudayaan
yang menjadi karakteristik bangsa Indonesia, seperti
gotong royong, silahturahmi, ramah tamah dalam masyarakat menjadi keistimewaan
dasar yang dapat menjadikan individu-individu masyarakat Indonesia untuk
mencintai dan melestarikan kebudayaan bangsa sendiri. Tapi karakteristik
masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan
santun kini mulai pudar sejak masuknya budaya asing ke Indonesia yang tidak
bisa diseleksi dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Nilai-nilai budaya tersebut bukan berarti mengharuskan
kita untuk bersikap tertutup terhadap budaya asing, namun nilai dan makna
filosofi kebudayaan Indonesia harus dijadikan sebagai sumber inspirasi dan
kreatifitas.
Membangun Semangat
nasionalisme
Nasionalisme
Indonesia adalah nasionalisme yang integralistik, dalam arti yang tidak
membeda-bedakan masyarakat atau warga negara atas dasar golongan atau yang
lainnya, melainkanmengatasi segalakeanekaragaman itu tetap diakui Persoalan
nasionalisme dan patriotisme di era global sebenarnya bukan hanya masalah yang
dialami oleh Indonesia. Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya dengan
kekuatan politik, ekonomi, budaya, dan hankam yang tak tertandingi pun harus
berdaya upaya sekeras-kerasnya dalam membangun semangat nasionalisme dan
patriotisme di kalangan warganya. Demikian pula dengan negara-negara lain.
Memperhatikan
kenyataan di atas dimana masalah pembangunan nasionalisme dan patriotisme saat
ini tengah menghadapi tantangan yang berat, maka perlu dimulai upaya-upaya
untuk kembali mengangkat tema tentang pembangunan nasionalisme dan patriotisme.
Apalagi di sisi lain, pembahasan atau diskusi tentang nasionalisme dan
patriotisme di Indonesia justru kurang berkembang (atau mungkin memang kurang
dikembangkan).
Pandangan tentang
Nasionalisme Indonesia di Era Global
Nasionalisme adalah
masalah yang fundamental bagi sebuah negara, terlebih jika negara tersebut
memiliki karakter primordial yang sangat pluralistik. Klaim telah dicapainya
bhinneka tunggal ika, apalagi lewat politik homogenisasi, sebetulnya tidak
pernah betul-betul menjadi realitas historis, melainkan sebuah agenda
nation-building yang sarat beban harapan. Orang disatukan sebagai suatu negara
karena persamaan identitas darah, ideologi, dan kepentingan. Kalau mau jujur,
gagasan Indonesia sebagai negara adalah produk kolonialisme. Kesatuan
teritorial dagang di bawah Belanda, Inggris, kemudian diambil alih Jepang dan
diwariskan ke pemerintahan bersama warga lokal yang bernama Indonesia.
Indonesia adalah
laboratorium sosial yang sangat kaya karena pluralitasnya, baik dari aspek ras
dan etnis, bahasa, agama dan lainnya. Itu pun ditambah status geografis sebagai
negara maritim yang terdiri dari setidaknya 13.000 pulau. Bahwa pluralitas di
satu pihak adalah aset bangsa jika dikelola secara tepat, di pihak lain ia juga
membawa bibit ancaman disintegrasi.
Negara itu sendiri
pada hakikatnya merupakan social contract, seperti istilah Rousseau, yang
secara intrinsik selalu memiliki tantangan disintegrasi. Yang menjadi soal,
seberapa besar derajat ancaman itu dan seberapa baik manajemen penyelesaiannya.
Konsepsi pembentukan
Indonesia sendiri memang lebih relevan, seperti istilah David Beetham, sebagai
sebuah produk historis, bukan a fact of nature. Ini selaras dengan asumsi bahwa
“semua wilayah nusantara bekas jajahan Belanda adalah wilayah Indonesia”.
Dengan demikian masalah legalitas wilayah terpecahkan secara lebih mudah dan
diterima oleh rakyatnya maupun komunitas internasional.
Perlu dicatat bahwa
cita-cita kolektif melalui pembentukan suatu negara antara lain merupakan itikad
mulia untuk bekerja sama senasib sepenanggungan melalui kerangka nasionalisme
dalam rangka meningkatkan kualitas hidup rakyat. Nasionalisme itu sendiri
sebetulnya adalah pendefenisian identitas kebangsaan dengan siapa kita ingin
bekerja bersama dalam mencapai bonum publicum, apakah karena ikatan etnis,
agama, wilayah/teritorial atau lainnya atau kombinasi sebagian atau seluruhnya.
Perubahan TataNilai
dan Sikapakibat melenturnya sikap nasionalisme
Adanya modernisasi
dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat
yang semula irasional menjadi rasional. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat
menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.
Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang
canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan
taraf hidup masyarakat. Dapat menimbulkan dampak negatif
1.Pola Hidup Konsumtif
Perkembangan
industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah.
Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak
pilihan yang ada.
2. Sikap Individualistik
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi
maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam
beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial
3.Gaya Hidup Kebarat-baratan
Tidak semua
budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai
menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan
bebas remaja, remaja lebih menyukai dance dan lagu barat dibandingkan tarian
dari Indonesia dan lagu-lagu Indonesia, dan lainnya.
Kesenjangan Sosial
Apabila dalam suatu komunitas
masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi
dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan
individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.
KESIMPULAN
Pengaruh kebudayaan
barat bagi Bangsa Indonesia bahwa kebudayaan barat itu dapat berpengruh positif
apabila orang-orang Indonesia mampu memilih pergaulan yang baik dan benar dari
kebudayaan barat misalnya meniru dalam sikap disiplin dalam kehidupan
sehari-hari, mempelajari teknologi informasi dengan baik dan benar sebagai
media belajar.
Proses filtrasi perlu
dilakukan supaya kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia tidak akan merusak
identitas kebudayaan nasional bangsa kita. Semua dampak positif dan dampak
negatif masuknya budaya asing di Indonesia tergantung bagaimana kita menyeleksi
budaya asing tersebut. Pentingnya peran masyarakat dan pemerintah dalam
mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia agar tidak terpengaruh oleh budaya
asing yang sifatnya negatif.

Komentar
Posting Komentar