KEGAGALAN JERMAN DI RUSIA

KEGAGALAN JERMAN DI RUSIA





Nama               : Rachma Aulia
Kelas               : 2KA26
NPM               : 14117811







KAGAGALAN JERMAN



Musim Semi, Juni 1941. Di luar dugaan, Adolf Hitler mengeluarkan perintah kepada pasukan Nazi untuk menginvasi Uni Soviet. Kurang lebih empat juta serdadu, 19 divisi panser, sekitar 3.000 unit tank, 2.500 pesawat udara, serta 7 senjata artileri, dikerahkan. Serangan tersebut diberi nama khusus: Unternehmen Barbarossa. Operasi Barbarossa. Misi invasi ini merupakan tindakan melanggar Pakta Molotov-Ribbentrop pada 1939. Pakta tersebut berisi kesepakatan non-agresi; kedua negara sepakat untuk tidak saling menyerang dan menjamin pengaruh masing-masing di wilayah yang telah ditentukan tanpa ada campur tangan dari pihak lainnya. Namun situasi damai antara keduanya hanya berlangsung sebentar saja. Ketika Jerman menginvasi Polandia pada 1939 dan mengakibatkan pecahnya Perang Dunia II, Soviet juga mulai mengokupasi negara-negara di wilayah Balkan dengan mengirim tentara NKVD untuk menyerbu Lituania, Estonia, dan Latvia. 

Namun, terlepas dari analisis politik yang ada, tidak sedikit yang menganggap invasi Jerman tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari obsesi kebencian Hitler terhadap Soviet dan komunisme. Menurut Hitler, Soviet yang didirikan oleh kaum Bolshevik komunis turut dipengaruhi dan diatur oleh kelompok Yahudi. Sementara alasan lain terkait dengan motif ekonomi dan geopolitik. Wilayah Soviet yang begitu luas dianggap Hitler memiliki posisi strategis serta dipenuhi oleh sumber daya alam yang dibutuhkan Jerman. Kondisi inilah yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat Lebensraum, cara pandang politik Hitler mengenai konsep tata ruang untuk hidup. Sebagaimana pernah ia kemukakan di bukunya, Mein Kampf. 
Konsep Lebensraum yang disebut Hitler sebetulnya telah muncul di Jerman sejak Abad Pertengahan. Pada 1901, etnografer Jerman, Friedrich Ratzel, pernah menjelaskan bahwa untuk menyatukan wilayah-wilayah Jerman, diperlukan pemahaman mengenai pengaruh kondisi geografi. Maka untuk itulah ekspansi wajib dilakukan sebagai bagian untuk memenuhi ruang geografi tersebut. Hipotesis Ratzel mengalami perkembangan pada 1912 setelah Jenderal Friedrich von Bernhardi menerbitkan bukunya berjudul: Germany and the Next War. Menurutnya, Lebensraum tidak hanya bermakna memecahkan masalah kondisi demografi, tetapi juga untuk menjaga agar Jerman tidak mengalami stagnasi dan degenerasi. Dan semua hanya dapat diwujudkan lewat peperangan serta ekspansi. 


AWAL OPERASI BARBAROSSA

Operasi Barbarossa pada mulanya akan dilaksanakan Hitler setelah menandatangani Perintah Perang Nomor 21 pada 18 Desember 1940. Di dalam dokumen tersebut tertulis: “Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dengan sesegera mungkin.” Namun, karena blunder salah satu sekutu terdekat Hitler, Benito Mussolini, rencana tersebut diundur menjadi 15 Mei 1941. Kecerobohan Mussolini bermula ketika ia memerintahkan Italia bersama sekutunya, Albania, untuk menyerang Yunani dengan modal 500 ribu pasukan. Sebetulnya tak ada urgensi apapun dalam penyerangan ini. Mussolini melakukannya semata agar kekuatannya dengan Hitler menjadi lebih stabil. Terlepas dari bagaimana kedekatan kedua diktator ini, Mussolini memang kerap menganggap dirinya adalah senior di antara tokoh-tokoh fasis kala itu. Maka ketika Hitler membuat Perancis menyerah hanya dalam waktu beberapa minggu, Mussolini yang tak mendapat bagian apapun dalam kemenangan tersebut, mulai merasa tersepelekan.

Sebelum melakukan serangan, pada 28 Oktober 1940, Mussolini menyuruh Duta Besarnya di Athena, Emmanuele Grazi, mengultimatum Perdana Menteri Yunani, Ioannis Metaxas, agar memberi akses bagi Italia. Metaxas menolak ultimatum tersebut dan memutuskan untuk berperang melawan Italia. “Ohi,” ucap Metaxas kala itu, yang berarti “tidak”. Hingga kini, Yunani masih merayakan “Ohi Day” untuk mengenang keberanian Metaxas.

CUACA DINGIN DAN HILTER YANG KERAS KEPALA

Pada 22 Juni 1941, pukul 3.15 pagi waktu setempat, Jerman memulai Operasi Barbarossa dengan mengebom besar-besar tiap kota besar di Polandia yang dikuasai Soviet. Ada empat kelompok diturunkan Jerman dalam penyerbuan ini: Pasukan Utara, Timur, Tengah, dan Selatan. Kekuatan Jerman saat itu terdiri atas Angkatan darat yang memiliki pasukan berjumlah sekitar 8-10 juta personil dan tergabung dalam 250 divisi, 30.000 tank, serta 16.000 pesawat terbang. Pasukan Utara yang dipimpin Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb menyerbu dari Prusia Timur dengan sasaran Leningrad (St. Petersburg). Pasukan Tengah di bawah komando Generalfeldmarschall Fedor von Bock berangkat dari Polandia melalui hamparan rawa-rawa luas Pripyat menuju Smolensk untuk kemudian ke Moskow. Sementara pasukan Selatan yang dipimpin oleh Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt bergerak ke arah Kiev dengan tujuan menguasai wilayah gudang pangan (gandum) di Ukraina serta sumber minyak bumi di Kaukasus. Joseph Stalin, pemimpin Soviet kala itu, tidak mengira jika Hitler betul-betul akan mengkhianati perjanjian antara kedua negara. 

KEKALAHAN KEMBALI DI TANAH RUSIA

76 tahun berselang, di atas rumput hijau Kazan Arena, Rusia, Jerman kembali mengalami kekalahan menyakitkan setelah usai takluk dari Korea Selatan 0-2 dalam laga pamungkas Grup F Piala Dunia 2018. Atas kekalahan tersebut, Jerman pun harus tersingkir dari fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah. Jika dulu Jerman kalah karena blunder Hitler yang bersikeras melanjutkan perang tanpa membawa pakaian musim dingin (pendeknya: menyiapkan kondisi pasukan untuk menghadapi musim dingin), kini Joachim Loew dianggap melakukan keteledoran karena tidak membawa pemain sayap yang tajam Leroy Sane. Para pemain Jerman di Piala Dunia 2018, yang dengan tegas mengkritik para suporternya yang menyanyikan lagu-lagu dari era NAZI, gagal memperlihatkan kelasnya sebagai juara bertahan -- dan membuat orang kembali mengingat keputusan Loew meninggalkan Sane. Di Manchester City, Sane menjadi salah satu tokoh kunci keberhasilan klub itu meraih gelar Liga Primer Inggris. Catatan statistik pemain 22 tahun tersebut memang mengesankan. Bermain dalam 58 laga di Premier League, ia mencetak 15 gol dan 18 assists. 

https://tirto.id/kegagalan-jerman-di-rusia-perang-di-moskow-sepakbola-di-kazan-cNd3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISACA, IIA, COSO, DAN ISO 1799- AUDIT SISTEM INFORMASI

MANAJEMEN LAYANAN INDOMARET

NARASI TENTANG DIRI SENDIRI