HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DENGAN KESEGARAN JASMANI DAN STATUS GIZI PADA ANAK
HUBUNGAN
ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DENGAN KESEGARAN JASMANI DAN STATUS GIZI PADA ANAK
Nama :
Rachma Aulia
Kelas :
2KA26
NPM :
14117811
Masih banyak anak sekolah
dasar (SD) yang belum tahu manfaat sarapan dan seringnya mengabaikan sarapan. Sarapan
berguna untuk kesegaran jasmani dan status gizi yaitu melalui pemenuhan
kebutuhan zat gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
kebiasaan sarapan dengan kesegaran jasmani dan status gizi pada anak SD. Metoda
: Desain penelitian adalah cross-sectional. Subjek sebanyak 56 anak diperoleh
dengan cara random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi kebiasaan sarapan
diperoleh dengan metode food recall 3x24 jam, kesegaran jasmani diperoleh
dengan Harvard Step Test dan status gizi ditentukan berdasarkan pengukuran
z-score IMT/U. Data dianalisis menggunakan uji rank spearman dengan melihat
kenormalan data. Kebiasaan sarapan pada anak SD kurang baik, seperti seringnya mengabaikan
sarapan. Sarapan sangat penting untuk anak SD karena dengan sarapan maka
kebutuhan zat gizi untuk aktivitas mereka saat di sekolah dapat terpenuhi,
dengan terpenuhinya kebutuhan zat gizi maka konsetrasi belajar juga meningkat
dan masa pertumbuhannya juga tidak terganggu.
Sarapan sebaiknya
mengandung makanan sumber karbohidrat kompleks, protein, tinggi serat, rendah
lemak, vitamin, mineral dan asam folat yang bertujuan untuk meningkatkan daya
ingat anak saat belajar di sekolah. Selain itu energi dari sarapan untuk anak
dianjurkan berkisar 20-25% dari kebutuhan energi total dalam sehari yang
dilakukan pada pagi hari
Kesegaran jasmani
akan didapat salah satunya dengan zat gizi yang cukup hasil bahwa anak yang melakukan sarapan
sebanyak 73,4%, yang tidak melakukan sarapan sebanyak 26,6% dan anak yang
mempunyai tingkat kesegaran jasmani yang kurang sebanyak 11,3% sedangkan
tingkat kesegaran jasmani baik sebanyak 88,7%. Bagi anak yang tidak sarapan
mempunyai risiko terhadap status gizi. Anak yang tidak sarapan akan cenderung
mengkonsumsi makanan jajanan. Jajan yang terlalu sering dapat mengurangi nafsu
makan anak di rumah. Selain itu banyak makanan jajanan yang kurang memenuhi
syarat kesehatan sehingga akan mengganggu kesehatan anak.
Makanan jajanan yang
dibeli atau dikonsumsi banyak mengandung energi dan lemak seperti makanan
gorengan dan lain-lain yang berpeluang
menjadi gemuk atau status gizi lebih, sedangkan kalau makanan jajanan
yang dibeli seperti makanan ringan, es, permen maka anak ini merupakan anak
yang rendah gizi terutama kalori sehingga kalau ini dikonsumsi tiap hari maka
anak akan menjadi gizi kurang.
di Sekolah Dasar
Saudi Arabia menunjukkan hasil bahwa yang meniadakan sarapan sebanyak 25%, yang
sarapan sebanyak 40,83%, yang kelebihan berat badan sebanyak 20,4%, berat badan
normal sebanyak 66,7% dan berada di bawah masih berat badan normal sebanyak
7,5%.
Variabel dependent
adalah kebiasaan sarapan sedangkan variabel independent adalah kesegaran
jasmani dan satatus gizi. Kebiasaan sarapan dilihat dari jumlah hari dalam satu
minggu responden mengkonsumsi sarapan di pagi hari (pukul 06.00 – 10.00 WIB)
selain itu dilihat dari nilai kalori sarapan tersebut yaitu dikatakan sarapan
jika mempunyai sumbangan sebanyak 20% dari konsumsi sehari
Hubungan Kebiasaaan
Sarapan dengan Kesegaran Jasmani
Menunjukkan tidak ada
hubungan antara kebiasaan sarapan dengan kesegaran jasmani. Hasil ini sesuai
dengan penelitian Nugrahaini di SD Negeri I Kartasura tahun 2009 yang
menunjukkan tidak ada hubungan kebiasaan sarapan dengan status gizi. Aktivitas
fisik merupakan gerakan yang dilakukan oleh tubuh dan sistem penunjangnya yang
biasanya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan anak akan mempengaruhi
tingkat kesegaran jasmani, sebab ketidaksempurnaan fungsi tubuh tertentu akan
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas baik disekolah maupun di
luar sekolah.
Hubungan Kebiasaan
Sarapan dengan Status Gizi
Tidak adanya hubungan
kebisaan sarapan dengan status gizi karena status gizi dipengaruhi oleh asupan
gizi terhadapa kebutuhan dalam sehari, bukan dari jumlah berapa kali sarapan
tetapi setelah dilihat dari asupan energi perhari ternyata juga tidak
berhubungan dikarenakan perhitungan asupan energi yang tidak tepat. Diduga
terdapat pula pengaruh faktor perancu seperti keberadaan penyakit yang turut
mempengaruhi status gizi. Pengaruh sarapan terhadap satatus gizi yaitu melalui
pemenuhan kebutuhan zat gizi karena sarapan dapat memberikan sumbangan zat gizi
perharinya. Anak yang tidak sarapan maka akan berisiko defisiensi zat gizi.
Jika hal ini berlangsung lama akan berpengaruh terhadap status gizinya.
Kesimpulannya
Subjek yang melakukan
sarapan setiap hari (selama satu minggu) sebanyak 8 anak (14,3%) dan subjek
yang melakukan sarapan sering (4-6 hari) sebanyak 28 anak (50%). Sumbangan
energi subjek dari sarapan < 20% sebanyak 34 anak (60,7%). Subjek yang
overweight dan obesitas cukup tinggi sebanyak
19 anak (33,9%) dan 13 anak (23,2%). Rerata kebiasaan sarapan subyek
yaitu sebesar 4,28±1,84 kali/minggu. Rerata sumbangan energi sarapan subyek
yaitu sebesar 34,01±9,09 persen. Rerata kesegaran jasmani subyek yaitu sebesar
73,08±8,81 bpm. Rerata z-score IMT/U subyek yaitu sebesar 0,88±1,45.

Komentar
Posting Komentar