APLIKASI PENGADOPSIAN TEKNOLOGI RFID DI RUMAH SAKIT INDONESIA, MANFAAT DAN HAMBATANNYA

APLIKASI PENGADOPSIAN TEKNOLOGI RFID DI RUMAH SAKIT INDONESIA, MANFAAT DAN HAMBATANNYA




Nama               : Rachma Aulia
Kelas               : 2KA26
NPM               : 14117811




Aplikasi teknologi RFID (Radio Frequency Identification)

Di rumah sakit relatif baru dibandingkan dengan sektor lainnya seperti manufaktur, retail, perpustakaan, logistik dan supply chain. Banyak para akademisi dan praktisi meyakini bahwa teknologi RFID memiliki potensi
besar untuk memberikan kemanfaatan bagi rumah sakit. Berdasarkan Wang et al. Yang melakukan studi tentang bagaimana aplikasi teknologi RFID di sebuah rumah sakit di Taiwan menunjukkan adanya penurunan biaya operasi, peningkatan keselamatan pasien dan peningkatan kualitas layanan medis. Tzeng et al. Juga berhasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proses bisnis dari lima rumah sakit di Taiwan dengan tingkat derajat kesuksesan yang bervariasi baik penuh maupun parsial. Di Amerika Serikat dan Eropa, alasan utama dari pengadopsian teknologi RFID adalah untuk meningkatkan daya saing bisnis dengan melakukan peningkatan keselamatan pasien dan menurunkan medical error. Dua rumah sakit di Singapura dan diikuti oleh lima buah rumah sakit di Taiwan juga telah mengimplementasikan teknologi RFID. Akan tetapi pemicunya adalah untuk mereduksi gejolak sosial di masyarakat akibat pademi SARS pada tahun 2003.
Kontras dengan kondisi di Indonesia, pengadopsian dari teknologi RFID di rumah sakit hampir belum ada yang menggunakan. Padahal penyebaran yang cepat dan dramatis dari penyakit telah meningkat pada tahun terakhir ini. AIDS/HIV, demam berdarah, flu burung (SARS) dan pandemi lainnya telah mempengaruhi Indonesia diikuti dengan banyaknya penderita yang meninggal. Joseph Domenech (2008) dari FAO chief veterinary officer menyatakan bahwa “ratarata tingkat kematian dari flu burung di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia dan akan lebih menyebar lagi pada manusia jika mereka tidak lebih memfokuskan pada kandungan penyakit di sumber hewan dan pencegahannya” (FAOnewsroom, 2008).

Teknologi RFID di Rumah Sakit

Sebenarnya, teknologi RFID bukanlah teknologi informasi (TI) yang baru. Teknologi ini ternyata telah ditemukan pada tahun 1950-an ketika Harris mematenkan penemuannya berupa sistem radio transmisi dan sebagai awal dimulainya riset teknologi RFID pada skala laboratorium (Hunt et al., 2007). Dalam perkembangan yang pesat, teknologi RFID telah berhasil diaplikasikan dalam bidang manufaktur, logistik dan supply chain dan berpotensi berkembang pada area yang lebih luas diantaranya di rumah sakit.  Walaupun pengadopsian teknologi RFID di rumah sakit relatif baru, Business Wire Market Research (2008) memprediksi bahwa pasar dari RFID tag, reader, dan sistemnya di dalam  industri kesehatan akan meningkat secara drastis mulai dari 85,24 juta dollar Amerika Serikat pada tahun 2007 sampai 2,05 milyar dollar Amerika Serikat pada tahun 2017.
Untuk regulasi pemerintah, mandat dari US Food and Drugs Administration (FDA) dan Mexico’s Federal Seguro Popular heath-insurance institution telah memicu industri kesehatan mengadopsi teknologi RFID. FDA memandatkan untuk setiap industri kesehatan terutama farmasi yang mensuplai obat-obatan ke pasar Amerika Serikat perlu membubuhkan semua item obatobatan dengan RFID tags (FDA, 2006).
Evans dan Piechowski (2005) melaporkan bahwa hampir setengah (43%) dari industri kesehatan Amerika Serikat yang disurvei memerlukan teknologi RFID untuk meningkatkan kompetitif strateginya. Ini mengindikasikan bahwa keperluan dari industri kesehatan itu sendiri lebih berpengaruh dibanding dengan mandat dan rekomendasi dari pemerintah,organisasi dan konsumen besar seperti perusahaan retailer.

Manfaat dan Area Aplikasi dari Pengadopsian Teknologi RFID di Rumah Sakit

Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi RFID memiliki potensi berkontribusi pada pengoperasian yang lebih efektif, meningkatkan layanan medis, dan keselamatan pasien (patient safety). Tzeng et al. (2008) berhasil menunjukkan adanya perbaikan proses bisnis di lima buah rumah sakit di Taiwan setelah mengimplementasikan teknologi RFID.
Adanya mandat dari pemerintah berkaitan dengan perlunya obat-obatan tertentu dibubuhi dengan RFID tags menyebabkan jumlah pencurian dan pemalsuan obat dapat ditekan. Dampaknya juga dapat menekan biaya persediaan obat karena rumah sakit dengan mudah bisa mengetahui berapa obat yang tersedia. Adanya teknologi ini, moral dari staf medis akan meningkat karena kemungkinan terjadinya kesalahan obat dan sukarnya memantau pasien dan peralatan medis dapat dihindari.

Hambatan dari Pengadopsian Teknologi RFID

Berdasarkan penelusuran artikel di jurnal, majalah dan internet, belum ditemukan laporan mengenai implementasi teknologi RFID di rumah sakit di Indonesia. Akan tetapi beberapa seminar tentang aplikasi teknologi RFID telah dilakukan.
Adanya gap yang tinggi antara aplikasi di rumah sakit di Taiwan dan Singapura dengan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hambatan yang menghalangi pengadopsian teknologi RFID di Indonesia. Padahal pengaplikasian teknologi RFID di Taiwan diawali karena adanya pandemi SARS yang juga melanda di Indonesia. Bahkan pademi lain seperti flu burung juga menyerang Indonesia dengan jumlah korban terbesar di dunia (FAONewsroom, 2008). Ini menunjukkan bahwa terjadi hambatan yang menghalangi terjadinya pengadopsian teknologi RFID di Indonesia bila dibandingkan dengan Taiwan. Penurunan harga dari RFID tags melebihi 70%, dan RFID readers turun juga mendekati 40% dari tahun 2004 ke 2006 (Bratten, 2006).

KESIMPULAN

Implementasi teknologi RFID di rumah sakit Indonesia berada pada tahap inisiasi, dimana para eksekutif dan manajer rumah sakit berupaya secara aktif maupun pasif mencari informasi dari solusi yang bisa diberikan untuk menyelesaikan masalah rumah sakit atau meningkatkan daya saingnya. Bila dibandingkan dengan negara lain seperti di Taiwan, menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan dari tahapan proses implementasi teknologi RFID. Berdasarkan hasil penelitian Tzeng et al. (2008) menunjukkan bahwa implementasi teknologi RFID di rumah sakit di Taiwan telah memasuki tahap pengembangan (infusion). Sebagian besar para praktisi di rumah sakit meyakini bahwa teknologi RFID memiliki banyak manfaat bila diterapkan. Oleh karena itu, teknologi RFID bisa menjadi salah satu pilihan solusi dari permasalahan dan peningkatan daya saing yang hendak dicapai rumah sakit di Indonesia.  Akan tetapi, dalam pengadopsiannya mengalami hambatan berupa hambatan bisnis dan teknologi.
Upaya menyebarkan informasi dan mempublikasikan aplikasi teknologi RFID dalam bentuk akademis jurnal, workshop dan seminar penting untuk dilakukan baik oleh para akademisi maupun praktisi. Di sisi lain, para eksekutif dan manager perlu juga secara aktif menggali informasi untuk memastikan apakah teknologi RFID mampu memberikan manfaat dan menyelesaikan solusi dari masalah di rumah sakit mereka.  Aplikasi teknologi RFID memerlukan anggaran yang besar karena beragamnya komponenkomponen dasar dan pendukung seperti RFID tags, readers, middleware, software, dan lainnya. Relatif rendahnya anggaran pengembangan yang dimiliki sebagian besar rumah sakit di Indonesia terutama pemerintah untuk pengembangan teknologi informasi menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya pengadopsian teknologi RFID di Indonesia. Akan tetapi, bila melihat fenomena yang cenderung turun untuk RFID tags, readers, dan sistem, maka keperluan budget atau anggarannya cenderung menurun dengan sendirinya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISACA, IIA, COSO, DAN ISO 1799- AUDIT SISTEM INFORMASI

MANAJEMEN LAYANAN INDOMARET

NARASI TENTANG DIRI SENDIRI